Fani Maharani Sofyan 2 AN E, webinar
Nama: Fani Maharani Sofyan
Kelas : 2 Administrasi Negara (E)
NPM : 118090091
Mata Kuliah: Sistem Informasi Manajemen
~RESUME WEBINAR~
FENOMENA KOMUNIKASI DI MASA PANDEMI COVID-19 DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF.
Narasumber 1: Farida Nurfalah, S. Sos., M. Si
Judul materi: Fenomena media komunikasi massa pada pandemi covid-19.
Mengenai media hidup ini dikendalikan oleh media massa hal ini terjadi karena dalam sehari-hari membutuhkan informasi/berita dan salah satunya dari media massa atau sedang trend media tersebut dan saat ini kaum milenial lebih menghabiskan waktu dengan media handphone. Media membentuk dan dibentuk oleh masyarakat karena apa yang di publikasikan dan disajikan oleh media pasti target sasaran nya masyarakat itu sendiri, salah satu diantara nya dgn menggunakan rekonstruksi media maka dari itu media dan pandemi covid-19 menjadi dua tema sentral dalam UU no. 40 tahun 1999 pasal 3 : Pers Nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan,menghibur dan kontrol sosial sebagai kekuatan dari pemerintahan kemudian penelitian lain bahwa media massa merupakan lahan kampanye serta menjadi ruang terbuka bagi diskusi dan perdebatan dalam hal ini tentunya juga termasuk pandemi covid-19. Oleh karena itu juga Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Prof Wiku B. Adisasmito, mengungkapkan bahwa: ada 3 masalah besar yang sempat terlihat pada penanganan wabah virus corona ditanah air, yaitu: virus corona, ego sektoral dan media. Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh media selama pandemi covid-19 dalam mengendalikan isu-isu yang terus bertambah setiap harinya sehingga para jurnalis&media pun harus mengikuti perkembangan informasi yang dapat di andalkan serta menyajikannya fakta dari informasi agar tetap dapat dijadikan sebagai sumber terpercaya bagi masyarakat. Kemudian seperti kita ketahui bentuk media massa itu sendiri meliputi media cetak, elektronik sampai terbentuknya konvergensi media yang meruntuhkan tembok pemisah antara berbagai teknologi dan aplikasi komunikasi dan informasi. Berikutnya penelitian oleh dewan pers kaitannya kepercayaan publik terhadap media, berupa media cetak tersebut, bahwa sebanyak 57,3% yg namanya masyarakat itu percaya kepada media konvensional dan 57,1% ini keterkaitan pada media konvensional itu karena fakta dan data disajikan oleh media konvensional itu tersebut. Media jejaring sosial itu masyarakat percaya karena adanya referensi atau perbandingan media yg ada ataupun misal nya percaya kepada artis/influencer, maka dari itu masyarakat dapat memilah milih mana media yg dijadikan porsi berita atau informasi kebenaran tersebut.
Narasumber 2: Dr. M. Badri, M. Si
Judul materi: Komunikasi dalam perspektif sosial khusus masa pandemi covid-19.
Ada perspektif sosial dengan kaitan sosial masyarakat di Indonesia terutama. Dan bagaimana proses adaptasi dari kondisi normal dengan adanya covid-19 kita WFH ada berbagai fenomena yaitu ada platfrom digital dan media sosial tumbuh sangat pesat: sebagaimana kata pak dekan semakin banyak media sosial komunikasi sehari-hari untuk pekerjaan/pendidikan dan transformasi inilah menuju kenormalan baru (new normal)/perubahan perilaku dan kemudian beradaptasi jadi kebiasaan baru/tatanan sosial baru sehingga pemerintah sendiri merevisi adaptasi kebiasaan baru tersebut. Dalam konteks ini ada 6 indikator media sosial:
1. Kelompok dan jejaring
2. Sikap percaya dan solidaritas
3. Gotong royong dan kerjasama
4. Informasi dan komunikasi
5. Keberatan sosial dan kebersamaan
6. Pemberdayaan dan aksi politik.
Penguatan kelompok dan jejaring:
- Partisipasi kelompok diperlukan untuk membangun kekuatan kolektif
- Kelompok berperan memperkuat imunitas mental masyarakat
- Jejaring antar kelompok akan membangun solidaritas kolektif.
Komunikasi apa yg bisa dilakukan sebagaimana ada Opinion Leader Kelompok/Komunitas:
- Perlu mengomunikasikan kesadaran dan perubahan perilaku: mematuhi protokol covid-19 misalnya cuci tangan, memakai masker, tidak berkerumun berjaga jarak saling mengingatkan satu sama lain karena penting pemimpin2 opinion dalam komunitas ataupun anggota-anggota nya.
- Mengkomunikasikan gerakan komunitas: aksi sosial, bantuan sosial, kampanye pencegahan covid-19.
Saling percaya dan solidaritas:
- Percaya ketika diminta untuk tetap dirumah, bekerja dirumah, meniadakan kegiatan ramau, tidak berkerumun, dan sebagainya untuk mencegah penyebaran virus secara pasif.
- Solidaritas merupakan energi sosial untuk menghadapi bencana corona.
- Solidaritas antar warga dapat membangun kekuatan di tingkat masyarakat.
- Solidaritas politik untuk membangun kekuatan politik dan kebijakan di tingkat negara.
Soliditas Tanpa Batas: kondisi seperti ini menggerakkan kami komunitas orang muda dari Sungai Daka untuk mencari donatur terkait pengadaan APD, masker dan vitamin, informasi kami tersebar di group whatsapp dan banyak sekali tanggapan positif dari warga.
Gotong Royong dan Kerjasama
- Gotong royong mengakar pada budaya Indonesia
- Modal sosial ini terbukti berjalan saat terjadi bencana
- Menggerakkan kelompok untuk bersama-sama terlibat dalam penanggulangan covid-19
- Kerjasama pemerintah, pelaku usaha, ahli, media massa, LSM, masyarakat.
Komunikasi memiliki peran penting untuk mengaktifkan budaya gotong royong dimana langkah nya seperti, 5 langkah giatkan gotong royong hadapi covid-19, mengajak para tokoh agama dan tokoh masyarakat punya peran penting untuk mengajak masyarakat bergotong royong serta mengikis diskriminasi terhadap pasien ataupun jenazah pasien covid-19.
5 langkah yang bisa diterapkan:
1. Membuat grup messenger khusus warga setempat untuk bertukar info
2. Mengajak warga tidak antipati pada pasien ataupun jenazah pasien positif covid-19
3. Melakukan cek ricek info beredar untuk hindari hoax/kabar bohong
4. Membantu warga untuk toleransi dan gotong royong membantu sesama mengidentifikasi warga bergejala atau beresiko tinggi terkena covid-19
5. Menyegerakan langkah prosedur terkait pencegahan dan isolasi diri.
Gotong Royong Berdamai Dengan Kenormalan Baru, gotong royong bisa dilakukan melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung:
1. Stop stigmatisasi pasien positif corona
2. Dukung tenaga medis dengan #DiRumahAja
3. Bantu aparat mendata dan distribusi bansos
4. Saling ingatkan untuk #TidakMudik
5. Sebarkan kabar baik, hentikan hoax
6. Patuh PSBB dan selalu #JagaJarak.
Informasi dan Komunikasi
Mari lawan disinfodemi/hoax corona: Menurut WHO, disinfodemi hoax corona sama berbahaya dengan pandemi virusnya, tak kurang dari 900 hoax lokal corona beredar di internet. Kita harus tangkal bersama virus hoax ini caranya:
1. Selalu cek dan ricek
2. Jangan asal forward pesan
3. Rujukan utama covid19.go.id
Hoax: memicu kepanikan publik dam mengganggu sistem sosial ekonomi
Informasi akurat: mengatasi infodemik yang mewabah di media sosial
Krisis: publik butuh komunikator yang kredibel
Komunikasi sebagai obat: berbicara baik, mengabarkan kebaikan, menyampaikan optimisme.
Bagaimana tidak menyebabkan penyebaran hoax, yaitu kreatif saat covid-19:
- Belajar: membuat konten kreatif positif dimedsos
- Cari informasi lomba: artikel, foto, video, poster, tiktok, komik, dll
- Bergerak: jangan terjebak dizona nyaman rebahan.
Keeratan Sosial dan Kebersamaan:
- Keeratan sosial: meredam konflik, tidak ada diskriminasi
- Keeratan sosial menjaga masyarakat dari potensi konflik SARA, sosial, ekonomi
- Keeratan sosial ekonomi: membantu tetangga terdampak
- Kebersamaan: senasib-sepenanggungan.
Keeratan sosial dan ekonomi akan memperkuat kebersamaan warga dan negara dalam menanggulangi covid-19.
Pemberdayaan dan Aksi Politik:
- Pemberdayaan: pemerintah tidak bisa sendiri, perlu partisipasi masyarakat
- Partisipasi masyarakat: menyediakan masker, hand sanitizer, membuat APD, membagi sembako
- Aksi politik: perlu gerakan sosial mendorong penyelenggara negara lebih sensitif kepentingan publik.
Aksi Sosial Dilakukan Dilevel:
-Mikro, Mesro, Makro
Masyarakat: menggerakkan modal sosial, ujung tombak kegiatan
Akademisi/ahli: melakukan riset dan inovasi
Pemerintah: membuat kebijakan dan regulasi
Pelaku usaha: CSR dan penguasaan ekonomi
Media: informasi faktual dan kontrol sosial.
Narasumber 3: Dr. Dedi Kurnia Syah, S. Sos. I., M. I. Kom
Judul materi: Pandemi komunikasi; implikasi sosiopolitik nasional.
Pemerintah menjalankan aksi komunikasi pandemi covid-19, menjalan riset penelitian IBO dengan metode welbeing metodologi adalah riset yang memungkinkan responden memiliki pengetahuan yang relevan dgn tema yg diriset sehingga ada dialog antara IBO dgn responden. Trend in Context: sejauh mana penilaian publik atas kinerja pemerintah dalam penanganan wabah covid-19 beserta implikasi sosial dan politik? Ada 58.6 PUAS ini riset nasional, 34.4 TIDAK PUAS, 7.0 ABSTAIN. Angka ini meskipun angka yg menunjukkan kekuasaan masyarakat penanganan pandemi ada diatas 50%.
Integritas pesan bergantung pada integritas sumber? Jika sebuah informasi didistribusikan oleh sumber dan materi yang biasa, maka publik sulit menerima pesan meskipun telah berulang kali mencoba memahaminya. Menurut axel westerwick, benjamin k. johnson, dan silvia knobtoch dalam jurnalnya berjudul confirmation biases in selective exposure to political online information source bias vs content bias(2015) bahwa komunikasi itu akan efektif kalau sumbernya punya integritas yg baik kemudian materil juga punya integritas yg baik maka publik sebagai konsumen akan memiliki pemahaman yg holistik artinya menyeluruh apa yg disampaikan oleh sumber pesan betul betul dipahami. Yang diinginkan publik ada yaitu: sejauh mana uapaya pemerintah dalam penanganan distribusi sosial termasuk penanganan masyarakat yg terdampak ekonomi.
Persepsi penanganan pandemi:
Tingkat kepuasan responden terhadap kinerja pemerintah dalam penanganan pandemi covid-19. Klaster respon: Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kota/kab, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pemerintah rw/rt. Kepemimpinan=34.7 Tenaga kerja=21 Bantuan sosial=42.8 Keterbukaan informasi=50.9 Konsisten regulasi=36.4. Penilaian publik terhadap aspek tertentu terkait penanganan pandemi covid-19. Penilaian ini mengukur kelemahan dan kelebihan dari kinerja pemerintah.
Model komunikasi pandemic public relations:
Publicity model=>Polotical governance=>Public
Informational publik model=>Political governance=>Public
Two way assimentrical model=>Political governance=>Public(feedback
Two way simentrical model=>Political governance=>Public.
Memahami publik menurut James E. Grunig, Managing public relations,1984:
1. Non publik, adalah kelompok yang tidak terpengaruh maupun mempengaruhi kebijakan
2. Publik yang tersembunyi (latent public), adalah kelompok yang menghadapi masalah akibat kebijakan, namun mereka tidak menyadarinya
3. Publik yang sadar (aware public), kelompok yang mengenali adanya masalah
4. Publik yang aktif (attentive), kelompok yang mengambil tindakan terhadap suatu kebijakan.
Persepsi Pada Informasi: Penilaian terhadap upaya penanganan pandemi apakah sudah cukup efektif?
Kebijakan: 40% tidak efektif
Program sosial: 15% tidak efektif
Koordinasi antar lembaga: 21% tidak efektif
Transparan: 9% tidak efektif
Lainnya: 15% tidak efektif.
*Menggunakan persepsi yang sudah ada
*Menjelaskan pergeseran yang dapat dilakukan terhadap persepsi tersebut
*Mengidentifikasi unsur-unsur persuasi cara terbaik adalah melakukan berdasarkan fakta
*Memastikan bahwa pesan tersebut dapat dipercaya dan dapat disampaikan melalui public relations.
Narasumber 4: Yuda Sanjaya, S. Sos
Judul materi: Fenomena komunikasi massa di tengah pandemi.
Perubahan Kebijakan Informasi
Informasi memegang peranan penting dalam mengubah mindset, respons dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi krisis. Perubahan kebijakan komunikasi yang dilakukan pemerintah sejak awal covid-18 masuk ke Indonesia dan hingga kondisi sekarang ini, belum banyak menolong masyarakat untuk merespons dengan baik kondisi pandemi. Disisi lain ada tantangan dari media sosial dan media dengan search engine based news, yang memperburuk implikasi covid-19 terhadap masyarakat
Grafik social distancing peran penyampaian informasi itu sudah masuk dan berbasis internet dan masyarakat masih bingung akan singkatan dari PDP, ODP dan lain sebagainya. Dan seperti yg Ibu Farida katakan bahwa masyarakat membentuk hasil pencarian salah satu apa yang dicari masyarakat saat social distancing, dan dari situ bagaimana para media berlomba-lomba mengimplikasikan trend tersebut dalam pandemi ini. Contohnya di amerika saat ini media massa nya jauh lebih canggih dari negara kita. Dan media komunikasi pada saat ini alangkah baiknya pemerintah menshare berita yg membuat masyarakat makin resah dan berita yg banyak masyarakat menolak fakta akan bahaya covid-19. Di Indonesia khususnya media dibentuk oleh masyarakat karena keinginan tahuan masyarakat yg tidak terjawab dari media sosial.
Kelas : 2 Administrasi Negara (E)
NPM : 118090091
Mata Kuliah: Sistem Informasi Manajemen
~RESUME WEBINAR~
FENOMENA KOMUNIKASI DI MASA PANDEMI COVID-19 DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF.
Narasumber 1: Farida Nurfalah, S. Sos., M. Si
Judul materi: Fenomena media komunikasi massa pada pandemi covid-19.
Mengenai media hidup ini dikendalikan oleh media massa hal ini terjadi karena dalam sehari-hari membutuhkan informasi/berita dan salah satunya dari media massa atau sedang trend media tersebut dan saat ini kaum milenial lebih menghabiskan waktu dengan media handphone. Media membentuk dan dibentuk oleh masyarakat karena apa yang di publikasikan dan disajikan oleh media pasti target sasaran nya masyarakat itu sendiri, salah satu diantara nya dgn menggunakan rekonstruksi media maka dari itu media dan pandemi covid-19 menjadi dua tema sentral dalam UU no. 40 tahun 1999 pasal 3 : Pers Nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan,menghibur dan kontrol sosial sebagai kekuatan dari pemerintahan kemudian penelitian lain bahwa media massa merupakan lahan kampanye serta menjadi ruang terbuka bagi diskusi dan perdebatan dalam hal ini tentunya juga termasuk pandemi covid-19. Oleh karena itu juga Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Prof Wiku B. Adisasmito, mengungkapkan bahwa: ada 3 masalah besar yang sempat terlihat pada penanganan wabah virus corona ditanah air, yaitu: virus corona, ego sektoral dan media. Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh media selama pandemi covid-19 dalam mengendalikan isu-isu yang terus bertambah setiap harinya sehingga para jurnalis&media pun harus mengikuti perkembangan informasi yang dapat di andalkan serta menyajikannya fakta dari informasi agar tetap dapat dijadikan sebagai sumber terpercaya bagi masyarakat. Kemudian seperti kita ketahui bentuk media massa itu sendiri meliputi media cetak, elektronik sampai terbentuknya konvergensi media yang meruntuhkan tembok pemisah antara berbagai teknologi dan aplikasi komunikasi dan informasi. Berikutnya penelitian oleh dewan pers kaitannya kepercayaan publik terhadap media, berupa media cetak tersebut, bahwa sebanyak 57,3% yg namanya masyarakat itu percaya kepada media konvensional dan 57,1% ini keterkaitan pada media konvensional itu karena fakta dan data disajikan oleh media konvensional itu tersebut. Media jejaring sosial itu masyarakat percaya karena adanya referensi atau perbandingan media yg ada ataupun misal nya percaya kepada artis/influencer, maka dari itu masyarakat dapat memilah milih mana media yg dijadikan porsi berita atau informasi kebenaran tersebut.
Narasumber 2: Dr. M. Badri, M. Si
Judul materi: Komunikasi dalam perspektif sosial khusus masa pandemi covid-19.
Ada perspektif sosial dengan kaitan sosial masyarakat di Indonesia terutama. Dan bagaimana proses adaptasi dari kondisi normal dengan adanya covid-19 kita WFH ada berbagai fenomena yaitu ada platfrom digital dan media sosial tumbuh sangat pesat: sebagaimana kata pak dekan semakin banyak media sosial komunikasi sehari-hari untuk pekerjaan/pendidikan dan transformasi inilah menuju kenormalan baru (new normal)/perubahan perilaku dan kemudian beradaptasi jadi kebiasaan baru/tatanan sosial baru sehingga pemerintah sendiri merevisi adaptasi kebiasaan baru tersebut. Dalam konteks ini ada 6 indikator media sosial:
1. Kelompok dan jejaring
2. Sikap percaya dan solidaritas
3. Gotong royong dan kerjasama
4. Informasi dan komunikasi
5. Keberatan sosial dan kebersamaan
6. Pemberdayaan dan aksi politik.
Penguatan kelompok dan jejaring:
- Partisipasi kelompok diperlukan untuk membangun kekuatan kolektif
- Kelompok berperan memperkuat imunitas mental masyarakat
- Jejaring antar kelompok akan membangun solidaritas kolektif.
Komunikasi apa yg bisa dilakukan sebagaimana ada Opinion Leader Kelompok/Komunitas:
- Perlu mengomunikasikan kesadaran dan perubahan perilaku: mematuhi protokol covid-19 misalnya cuci tangan, memakai masker, tidak berkerumun berjaga jarak saling mengingatkan satu sama lain karena penting pemimpin2 opinion dalam komunitas ataupun anggota-anggota nya.
- Mengkomunikasikan gerakan komunitas: aksi sosial, bantuan sosial, kampanye pencegahan covid-19.
Saling percaya dan solidaritas:
- Percaya ketika diminta untuk tetap dirumah, bekerja dirumah, meniadakan kegiatan ramau, tidak berkerumun, dan sebagainya untuk mencegah penyebaran virus secara pasif.
- Solidaritas merupakan energi sosial untuk menghadapi bencana corona.
- Solidaritas antar warga dapat membangun kekuatan di tingkat masyarakat.
- Solidaritas politik untuk membangun kekuatan politik dan kebijakan di tingkat negara.
Soliditas Tanpa Batas: kondisi seperti ini menggerakkan kami komunitas orang muda dari Sungai Daka untuk mencari donatur terkait pengadaan APD, masker dan vitamin, informasi kami tersebar di group whatsapp dan banyak sekali tanggapan positif dari warga.
Gotong Royong dan Kerjasama
- Gotong royong mengakar pada budaya Indonesia
- Modal sosial ini terbukti berjalan saat terjadi bencana
- Menggerakkan kelompok untuk bersama-sama terlibat dalam penanggulangan covid-19
- Kerjasama pemerintah, pelaku usaha, ahli, media massa, LSM, masyarakat.
Komunikasi memiliki peran penting untuk mengaktifkan budaya gotong royong dimana langkah nya seperti, 5 langkah giatkan gotong royong hadapi covid-19, mengajak para tokoh agama dan tokoh masyarakat punya peran penting untuk mengajak masyarakat bergotong royong serta mengikis diskriminasi terhadap pasien ataupun jenazah pasien covid-19.
5 langkah yang bisa diterapkan:
1. Membuat grup messenger khusus warga setempat untuk bertukar info
2. Mengajak warga tidak antipati pada pasien ataupun jenazah pasien positif covid-19
3. Melakukan cek ricek info beredar untuk hindari hoax/kabar bohong
4. Membantu warga untuk toleransi dan gotong royong membantu sesama mengidentifikasi warga bergejala atau beresiko tinggi terkena covid-19
5. Menyegerakan langkah prosedur terkait pencegahan dan isolasi diri.
Gotong Royong Berdamai Dengan Kenormalan Baru, gotong royong bisa dilakukan melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung:
1. Stop stigmatisasi pasien positif corona
2. Dukung tenaga medis dengan #DiRumahAja
3. Bantu aparat mendata dan distribusi bansos
4. Saling ingatkan untuk #TidakMudik
5. Sebarkan kabar baik, hentikan hoax
6. Patuh PSBB dan selalu #JagaJarak.
Informasi dan Komunikasi
Mari lawan disinfodemi/hoax corona: Menurut WHO, disinfodemi hoax corona sama berbahaya dengan pandemi virusnya, tak kurang dari 900 hoax lokal corona beredar di internet. Kita harus tangkal bersama virus hoax ini caranya:
1. Selalu cek dan ricek
2. Jangan asal forward pesan
3. Rujukan utama covid19.go.id
Hoax: memicu kepanikan publik dam mengganggu sistem sosial ekonomi
Informasi akurat: mengatasi infodemik yang mewabah di media sosial
Krisis: publik butuh komunikator yang kredibel
Komunikasi sebagai obat: berbicara baik, mengabarkan kebaikan, menyampaikan optimisme.
Bagaimana tidak menyebabkan penyebaran hoax, yaitu kreatif saat covid-19:
- Belajar: membuat konten kreatif positif dimedsos
- Cari informasi lomba: artikel, foto, video, poster, tiktok, komik, dll
- Bergerak: jangan terjebak dizona nyaman rebahan.
Keeratan Sosial dan Kebersamaan:
- Keeratan sosial: meredam konflik, tidak ada diskriminasi
- Keeratan sosial menjaga masyarakat dari potensi konflik SARA, sosial, ekonomi
- Keeratan sosial ekonomi: membantu tetangga terdampak
- Kebersamaan: senasib-sepenanggungan.
Keeratan sosial dan ekonomi akan memperkuat kebersamaan warga dan negara dalam menanggulangi covid-19.
Pemberdayaan dan Aksi Politik:
- Pemberdayaan: pemerintah tidak bisa sendiri, perlu partisipasi masyarakat
- Partisipasi masyarakat: menyediakan masker, hand sanitizer, membuat APD, membagi sembako
- Aksi politik: perlu gerakan sosial mendorong penyelenggara negara lebih sensitif kepentingan publik.
Aksi Sosial Dilakukan Dilevel:
-Mikro, Mesro, Makro
Masyarakat: menggerakkan modal sosial, ujung tombak kegiatan
Akademisi/ahli: melakukan riset dan inovasi
Pemerintah: membuat kebijakan dan regulasi
Pelaku usaha: CSR dan penguasaan ekonomi
Media: informasi faktual dan kontrol sosial.
Narasumber 3: Dr. Dedi Kurnia Syah, S. Sos. I., M. I. Kom
Judul materi: Pandemi komunikasi; implikasi sosiopolitik nasional.
Pemerintah menjalankan aksi komunikasi pandemi covid-19, menjalan riset penelitian IBO dengan metode welbeing metodologi adalah riset yang memungkinkan responden memiliki pengetahuan yang relevan dgn tema yg diriset sehingga ada dialog antara IBO dgn responden. Trend in Context: sejauh mana penilaian publik atas kinerja pemerintah dalam penanganan wabah covid-19 beserta implikasi sosial dan politik? Ada 58.6 PUAS ini riset nasional, 34.4 TIDAK PUAS, 7.0 ABSTAIN. Angka ini meskipun angka yg menunjukkan kekuasaan masyarakat penanganan pandemi ada diatas 50%.
Integritas pesan bergantung pada integritas sumber? Jika sebuah informasi didistribusikan oleh sumber dan materi yang biasa, maka publik sulit menerima pesan meskipun telah berulang kali mencoba memahaminya. Menurut axel westerwick, benjamin k. johnson, dan silvia knobtoch dalam jurnalnya berjudul confirmation biases in selective exposure to political online information source bias vs content bias(2015) bahwa komunikasi itu akan efektif kalau sumbernya punya integritas yg baik kemudian materil juga punya integritas yg baik maka publik sebagai konsumen akan memiliki pemahaman yg holistik artinya menyeluruh apa yg disampaikan oleh sumber pesan betul betul dipahami. Yang diinginkan publik ada yaitu: sejauh mana uapaya pemerintah dalam penanganan distribusi sosial termasuk penanganan masyarakat yg terdampak ekonomi.
Persepsi penanganan pandemi:
Tingkat kepuasan responden terhadap kinerja pemerintah dalam penanganan pandemi covid-19. Klaster respon: Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kota/kab, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pemerintah rw/rt. Kepemimpinan=34.7 Tenaga kerja=21 Bantuan sosial=42.8 Keterbukaan informasi=50.9 Konsisten regulasi=36.4. Penilaian publik terhadap aspek tertentu terkait penanganan pandemi covid-19. Penilaian ini mengukur kelemahan dan kelebihan dari kinerja pemerintah.
Model komunikasi pandemic public relations:
Publicity model=>Polotical governance=>Public
Informational publik model=>Political governance=>Public
Two way assimentrical model=>Political governance=>Public(feedback
Two way simentrical model=>Political governance=>Public.
Memahami publik menurut James E. Grunig, Managing public relations,1984:
1. Non publik, adalah kelompok yang tidak terpengaruh maupun mempengaruhi kebijakan
2. Publik yang tersembunyi (latent public), adalah kelompok yang menghadapi masalah akibat kebijakan, namun mereka tidak menyadarinya
3. Publik yang sadar (aware public), kelompok yang mengenali adanya masalah
4. Publik yang aktif (attentive), kelompok yang mengambil tindakan terhadap suatu kebijakan.
Persepsi Pada Informasi: Penilaian terhadap upaya penanganan pandemi apakah sudah cukup efektif?
Kebijakan: 40% tidak efektif
Program sosial: 15% tidak efektif
Koordinasi antar lembaga: 21% tidak efektif
Transparan: 9% tidak efektif
Lainnya: 15% tidak efektif.
*Menggunakan persepsi yang sudah ada
*Menjelaskan pergeseran yang dapat dilakukan terhadap persepsi tersebut
*Mengidentifikasi unsur-unsur persuasi cara terbaik adalah melakukan berdasarkan fakta
*Memastikan bahwa pesan tersebut dapat dipercaya dan dapat disampaikan melalui public relations.
Narasumber 4: Yuda Sanjaya, S. Sos
Judul materi: Fenomena komunikasi massa di tengah pandemi.
Perubahan Kebijakan Informasi
Informasi memegang peranan penting dalam mengubah mindset, respons dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi krisis. Perubahan kebijakan komunikasi yang dilakukan pemerintah sejak awal covid-18 masuk ke Indonesia dan hingga kondisi sekarang ini, belum banyak menolong masyarakat untuk merespons dengan baik kondisi pandemi. Disisi lain ada tantangan dari media sosial dan media dengan search engine based news, yang memperburuk implikasi covid-19 terhadap masyarakat
Grafik social distancing peran penyampaian informasi itu sudah masuk dan berbasis internet dan masyarakat masih bingung akan singkatan dari PDP, ODP dan lain sebagainya. Dan seperti yg Ibu Farida katakan bahwa masyarakat membentuk hasil pencarian salah satu apa yang dicari masyarakat saat social distancing, dan dari situ bagaimana para media berlomba-lomba mengimplikasikan trend tersebut dalam pandemi ini. Contohnya di amerika saat ini media massa nya jauh lebih canggih dari negara kita. Dan media komunikasi pada saat ini alangkah baiknya pemerintah menshare berita yg membuat masyarakat makin resah dan berita yg banyak masyarakat menolak fakta akan bahaya covid-19. Di Indonesia khususnya media dibentuk oleh masyarakat karena keinginan tahuan masyarakat yg tidak terjawab dari media sosial.
Komentar
Posting Komentar