Dewi Kusumah 2 AN E (webinar)

Nama : Dewi Kusumah
Npm : 118090088
Tk/kelas : 2 AN E
                                     HASIL RESUME

Pemateri pertama: Farida Nurfalah, S.Sos., M.Si ( Ka. Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UGJ)
FENOMENA MEDIA KOMUNIKASI MASSA PADA PANDEMI COVID 19
Bebicara mengenai media sering kali kita hidup ini dikendalikan oleh media. Hal ini terjadi karena kita membutuhkan informasi atau berita. Salah satunya kita peroleh dari media masa. 9% milenial membuka smartphone  1 menit setelah bangun tidur.
Media, Hidup ini dikendalikan media massa. Media membentuk dan dibentuk oleh masyarakat. Ini sering kali kita temukan yang namanya media  memang bisa dikatakan membentuk masyarakat. Karena,  apa yang dipublikasikan dan disajikan oleh media pasti target atau sasarannya masyarakat. Informasi yang disajikan oleh media kembali lagi bersumber dari masyarakat. Oleh karena itu maka media dan pendemi covid 19 ini  merupakan dua tema sentral yang menarik perhatian masyarakat saat sekarang. Dalam UU No.40 tahun 1999 Pasal 3 “pers Nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, menghibur, dan kontrol sosial”. Ross, 2007 “media massa merupakan lahan kampanye serta menjadi ruang terbuk bagi diskusi dan perdebatan dalam hal ini tentunya juga termasuk pandemi covid 19”. Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Prof Wiku B. Adsasmito, mengungkapkan bahwa ada 3 masalah besar yang sempat terlihat pada penanganan wabah virus corona ditanah air, yaitu: virus corona itu sendiri, ego sektoral, dan media.
Banyak tantangan yang harus di hadapi oleh Media selama Pandemi Covid 19 dalam mengendalikan isu-isu yang terus bertambah setiap harinya. Situasi pandemi membuat Jurnalis dan juga organisasi Media harus mengikuti perkembangan informasi yang dapat diandalkan serta menyajikan fakta dari informasi agar tetap dapat dijadikan sebagai sumber terpercaya bagi masyarakat.
Bentuk Media Massa itu sendiri itu meliputi media cetak, Elektronik sampai terbentuknya konvergensi media yang meruntuhkan tembok pemisah antara berbagai teknologi dan aplikasi komunikasi dan informasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dewan Pers kaitannya dengan kepercayaan terhadap media salah satunya adalah mengenai kepercayaan masyarakat terhadap media konvensional ( media cetak, media tv, dan radio).
Sebanyak 57,3%  masyarakat percaya kepada media konvensional. Karena fakta dan data yang di sajikan oleh media konvensional tersebut. Ada beberapa contoh media konvensional kompas, harian pokok pikiran rakyat dan sebaginya. Selai  percaya pada media konvensional masyarakat juga percaya kepada media jejaring sosial. Karena adanya sebagai referensi pembanding dari media yang ada. Oleh karena itu, maka media konvensional dan jejaring sosial memiliki posisi tersendiri di masyarakat. Dan masyarakat bisa memilah media yang mana kita bisa dijadikan referensi untuk mendapatkan informasi.

Harapan terhadap Pandemi ini maka diperlukanlah sikap masyarakat untuk belajar atau membekali dirinya untuk memilah  informasi yang ada untuk menghindari hoaks. Masyarakat harus beradaptasi kebiasaan New Normal ini misalnya tetap disiplin dalam protokol kesehatan.

Pemateri kedua: Dr. M. Badri, M.Si (Dosen IKOM UIN Sultan Syarif Kasim Riau)
KOMUNIKASI UNTUK MENGGERAKAN MODAL SOSIAL DI MASSA PANDEMI COVID-19
Proses kondisi normal beradaptasi dengan adanya pandemi ini kita WFH ada berbagai fenomena digital dan media sosia tumbuh sangat pesat, transformasi ini menunjukan adaptasi ke new normal yang di revisi pemerintah menjadi adaptasi kebiasaan baru. Jadi, istilah new normal tidak lagi dipakai lagi.
Ada 6 indikator modal sosial:
Kelompok dan jejaring
Partisipasi kelompok diperlukan untuk membangun kekuatan kolektif
Kelompok berperan memperkuat imunitas mental masyarakat
Jejaring antar kelompok akan membangun solidaritas kolektif
Sikap percaya dan solidaritas
Percaya ketika diminta untuk tetap dirumah, bekerja dirumah, meniadakan kegiatan ramai, tidak berkerumun, dan sebagainya untuk mencegah penyebaran virus secara masif
Solidaritas merupakan energi sosial unuk menghadapi bencana corona
Solidaritas antar warga dapat membangun kekuatan di tingkat masyarakat
Solidaritas politik untuk membangun kekuatan politik untuk membangun kekuatan politik dan kebijakan ditingkat negara
Gotong royong dan kerjasama
Gotong royong mengakar pada budaya Indonesia
Modal sosial ini terbukti berjalan saat terjadi bencana
Menggerakan kelompok untuk bersama-sama terlibat dalam penanggulangan covid-19
Kerjasama: pemerintah, pelaku usaha, ahli, media massa, LSM, masyarakat
Informasi dan komunikasi
Hoaks: memicu kepanika publik dan mengganggu sistem sosial ekonomi
Informasi akurat: mengatasi infodemik yang mewabah di media sosial
Krisis: publik butuh komunikator yang kredibel
Komunikasi sebagai obat: berbicara baik, mengabarkan kebaikan, menyampaikan optimisme
Keeratan sosial dan kebersamaan
Keeratan sosial: merendam konflik, tidak ada diskriminasi
Keeratan sosial menjaga masyarakat dari potensi konflik SARA, sosial, ekonomi
Keeratan sosial ekonomi: membantu tetangga terdampak
Kebersamaan: senasib-sepenanggungan.
Keeratan sosial dan ekonomi akan memperkuat kebersamaan warga dan negara dalam menanggulangi covid-19
Pemberdayaan dan aksi politik
Pemberdayaan: pemerintah tidak bisa berdiri sendiri, perlu partisipasi masyarakat
Partisipasi masyarakat: menyediakan masker, hand sanitizer, membuat APD, membagi sembako
Aksi politik: perlu gerakan sosial mendorong penyelenggaraan negara lebih sensitif kepentingan publik.

Pemateri ketiga: Dr. Dedi Kurnia Syah ( Direktur Eksekutif Indonesia Politik/Dosen Telkom University)
PANDEMI KOMUNIKASI; IMPLIKASI SOSIOPOLITIK NASIONAL
Aspek ini melihat bagaimana negara dalam hal ini adalah pemerintah menjalankan aksi komunikasi terkait dengan pandemi yang kemudian ini berimbas sangat panjang sekali. Yang berkaitan dengan isu-isu sosial, dan isu-isu politik secara nasional.
Hasil riset IVO, salah satu hasilnya memiliki kaitan dengan pemerintah dengan penanganan pandemi covid-19.  Yang ditanyakan adalah sejauh mana penilaian publik atas kinerja pemerintah dalam penanganan wabah covid-19 beserta implikasi sosial dan politik. Hanya ada 58,6 masyarakat yang menyatakan puas. 34,4 tidak puas. 7,0 abstain. Ini riset skala Nasional yang respondennya sebanyak 1.350 responden yang tersebar di 34 provinasi kecuali Papua Barat.
Integritas pesan bergantung pada integritas sumber, jika sebuah informasi didistribusikan oleh sumber dan materi yang bias, maka publik sulit menerima pesan meskipun telah berulangkali mencoba memahami.
Persepsi penanganan pandemi tingkat kepuasan responden terhadap kinerja pemerintah dalam penanganan pandemi covid-19
Klaster respon:
Pemerintah pusat mendapatkan 32,5%
Pemerintah provinsi 41,9%
Pemerintah kota/kab 6%
Pemerintah Kecamatan 0,2%
Pemerintah Desa 3,4%
Pemerintah RW/RT 16%
Penilaian publik terhadap aspek tertentu terkait penanganan pandemi covid-19. Penilaian ini mengukur kelemahan dan kelebihan dari kinerja pemerintah.
Model komunikasi ( pandemi public relation)
Publicity model : political governance publik
Informational public model: political governance          publik
Two way assimentrical model: political governance        publik ( adanya feedback)
Two way simentrical model: political governance           publik
Pemerintah menggunakan model komunikasi publikcity model dan informational public model. Yang keduanya ini adalah menempatkan masyarakat itu penerima pesan dan tidak punya kewenangan untuk melakukan feedback. Yang semestinya digunakan dan ideal adalah model komunikasi two way assimentrial model dan two way simentrial model.
Memahami publik, James E. Grunig. Managing Public Relation. 1985:
Non publik, adalah kelompok yang tidak berpengaruh maupun mempengaruhi kebijakan.
Publik yang tersembunyi, adalah kelompok yang menghadapi masalah akibat kebijakan, namun mereka tidak menyadari.
Publik yang sadar, kelompok yang mengenali adanya masalah.
Publik yang aktif, kelompok yang mengambil tindakan terhadap suatu kebijakan.

Pemateri keempat: Yuda Sanjaya, S. Sos
FENOMENA KOMUNIKASI MASSA DITENGAH PANDEMI

Perubahan Kebijakan Informasi
Informasi memegang peranan penting dalam mengubah mindset, respons dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi krisis. Perubahan kebijakan komunikasi yang dilakukan pemerintah sejak awal covid-18 masuk ke Indonesia dan hingga kondisi sekarang ini, belum banyak menolong masyarakat untuk merespons dengan baik kondisi pandemi. Disisi lain ada tantangan dari media sosial dan media dengan search engine based news, yang memperburuk implikasi covid-19 terhadap masyarakat
Grafik social distancing peran penyampaian informasi itu sudah masuk dan berbasis internet dan masyarakat masih bingung akan singkatan dari PDP, ODP dan lain sebagainya. Dan seperti yg Ibu Farida katakan bahwa masyarakat membentuk hasil pencarian salah satu apa yang dicari masyarakat saat social distancing, dan dari situ bagaimana para media berlomba-lomba mengimplikasikan trend tersebut dalam pandemi ini. Contohnya di amerika saat ini media massa nya jauh lebih canggih dari negara kita. Dan media komunikasi pada saat ini alangkah baiknya pemerintah menshare berita yg membuat masyarakat makin resah dan berita yg banyak masyarakat menolak fakta akan bahaya covid-19. Di Indonesia khususnya media dibentuk oleh masyarakat karena keinginan tahuan masyarakat yg tidak terjawab dari media sosial.

Komentar

Postingan Populer